Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

var popunder = true;
Muqaddimah 
Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quran dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang. Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang. Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quran, yaitu : 1. Keimanan: Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat no. [6]. 2. Hukum-hukum: Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran. 3. Kisah-kisah: Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surat-surat yang lain.

Penutup
Surat Al Fatihaah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quran yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

Dibahagian akhir surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai dengan penunjukan al Kitaab (Al Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Jumat, 24 Februari 2012

var popunder = true;

Di dunia masa kini, ada dua macam kendaraan yang pada umumnya dipakai manusia dalam sejarah hidupnya, yaitu yang memakai tenaga tolak untuk maju contohnya hewan, mobil, kapal laut atau kapal udara.
Yang lainnya memakai gaya centrifugal (melanting [dari titik tolak] ) seperti pesawat UFO yang populer disebut “piring terbang”. Kedua macam kendaraan ini oleh Al-Quran surat An-Nahl ayat 8 disebutkan sebagai benda terapung dan ternak. Yang dimaksud dengan ternak yaitu kuda, unta, keledai, dls. Dan benda terapung maksudnya yaitu segala macam kendaraan yang diwujudkan oleh teknologi manusia termasuk di dalamnya “piring terbang”. 
Khusus mengenai “piring terbang”, oleh surat An-Nahl ayat 8 adalah kendaraan yang tidak diketahui manusia dalam waktu ribuan tahun dan oleh surat Az-Zukhruf ayat 12 menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan semua yang berpasangan-pasangan. Maksudnya, ada bagian positif dan bagian negatif dari “piring terbang” itu (positif dan negatif=pasangan). Karena surat Az-Zukhruf ayat 12 ini membicarakan tentang alat transportasi maka tentunya istilah “berpasangan-pasangan” itu adalah kendaraan. Dan kendaraan itu tak lain mungkin adalah “piring terbang” yang memiliki bagian positif dan bagian negatifnya.

Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal* dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
(Surat An-Nahl ayat 8 )
* Bagal adalah peranakan kuda dengan keledai.
Ayat ini menerangkan soal kendaraan yang biasa dan bisa dipakai oleh manusia. Manusia biasa menggunakan kendaraan ternak. Kuda dan keledai merupakan tenaga pembawa dan penarik maka keadaannya sama dengan mobil dan kapal terbang selaku pembawa dan penarik. Penggalan kata “bisa” pada paragraf ini, merupakan sesuatu yang belum diketahui manusia tentang kendaraan.
Baik kuda dan keledai maupun mobil dan kapal terbang sama-sama menggunakan tenaga tolak ke belakang untuk maju ke depan, pada dasarnya kedua macam kendaraan itu memiliki prinsip yang sama. Lalu kendaraan apa yang belum diketahui manusia seperti yang disebutkan pada surat An-Nahl ayat 8 itu?
Hal ini dijawab sendiri oleh Al-Quran :

Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.

Supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan agar kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang Telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya”.

Dan Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
(Surat Az-Zukhruf ayat 12 – 14)
Kalau anda membaca susunan ayat Al-Quran ini sepintas mungkin anda tidak merasa mendapatkan sesuatu yang aneh dan baru. Akan tetapi, patut diketahui bahwa tidak ada satu pun ayat suci Al-Quran yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya yang percuma atau tidak memiliki makna. Kalau anda teliti dan merenungkannya dalam-dalam, semua ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Quran itu selalu memiliki unsur-unsur keterkaitan antar ayatnya, baik kaitan ayat yang ada di dalam surat itu sendiri atau kaitan ayat pada surat-surat Al-Quran yang lain. Sederhananya, keterkaitan satu ayat dengan ayat yang lainnya seperti dunia internet yang sedang anda jelajahi ini. Suatu halaman web yang berisi informasi selalu memiliki kaitan atau link, baik link yang menuju ke halaman web itu sendiri ataupun link yang menuju ke halaman web yang lainnya.
Nah, semua unsur-unsur yang saling berkaitan itu tak jarang selalu menghasilkan pemahaman ilmiah yang dapat diterima oleh akal sehat. Dengan begitu, memahami susunan ayat-ayat di atas ini maka “benda terapung” ini adalah suatu kendaraan yang belum diketahui oleh manusia. Seperti yang disebutkan pada surat An-Nahl ayat 8.
Susunan ayat-ayat diatas nantilah kita analisis belakangan.
Sekarang kita masuki persoalan yang nantinya jadi bahan dalam penganalisaan itu.
Al-Quran sering sekali menjelaskan persoalan rotasi dan orbit benda-benda angkasa. Hal itu merupakan gambaran bagi setiap orang agar selalu memperhatikan kenapa Bumi ini berputar pada porosnya, kenapa planet ini bersama planet-planet yang lainnya beredar mengelilingi matahari yang juga berputar di porosnya. Semua planet itu tidak bertiang, tidak bertali dan juga tidak memiliki tempat bergantung. Semuanya bergerak dalam keadaan bebas terapung. Hanya Rawasialah yang memutar planet itu di sumbunya sambil berputar-putar mengelilingi matahari. Sungguh Rawasia itu adalah wujud penting dari sesuatu yang harus diteliti lebih dalam lagi oleh para astronom. Dengan mengetahui keadaan Rawasia setiap planet, maka tabir misteri alam semesta yang tak terbatas itu akan terkuak.
Bumi yang beratnya sekitar 700 triliun ton tidak jatuh pada matahari karena gaya lantingnya (centrifugal) dalam keadaan mengorbit, sebaliknya Bumi juga tidak terlanting jauh keluar dari garis orbitnya sebab ditahan oleh gaya gravitasi pada matahari sebagai pusat orbit. Kekuatan gaya lanting Bumi dan gaya gravitasi adalah sama besarnya, orang ahli menyebutnya dengan Equilibrium. Oleh karena itulah sampai hari ini Bumi yang kita diami terus menerus berputar dan beredar mengelilingi matahari.
Andaikan kalau Bumi hanya memakai gaya lantingnya saja tanpa menggunakan gaya gravitasi. Maka, bisa dipastikan Bumi akan melayang jauh meninggalkan matahari. Dengan begitu, tenaga centrifugal seperti yang dimiliki Bumi dapat diadopsi oleh “piring terbang” untuk terbang jauh jika tenaga gravitasinya dihilangkan.
Nah, akhirnya kita pun sampai pada pertanyaan ini, bagaimana cara menghilangkan gaya gravitasi itu?
Salah satu caranya adalah dengan memutar bagian pesawat secara horisontal. Apabila putaran itu semakin cepat maka semakin besar pula gaya centrifugal yang dihasilkan dan semakin kecillah gaya gravitasinya, sampai akhirnya gaya gravitasi ini akan hilang sama sekali dan mulailah pesawat dapat terangkat dengan mudah tanpa terpengaruh oleh gravitasi Bumi.
Mungkin anda akan bertanya, bagaimana bisa pesawat dapat berputar terus menerus tanpa tumpuan? Dari situlah kita namakan pesawat ini dengan Shuttling System, yaitu pesawat berbentuk piring dempet yang ditengah-tengahnya adalah tempat penumpang.
Anda bisa simak gambar ilustrasi struktur “piring terbang” dibawah ini.

A. Bagian Atas, kita namakan Positif, berputar ke kanan, semakin ke pinggir massanya semakin tebal dan berat.
B. Bagian Bawah, kita namakan Negatif, berputar ke kiri, semakin ke pinggir massanya semakin tebal dan berat.
C. Bagian Tengah, kita namakan Netral, disinilah tempat awak pesawat serta perlengkapan dan mesin yang memutar Positif dan Negatif sekaligus dalam satu kendali.

Praktis pesawat pun akan terangkat dibantu dengan ledakan seperlunya untuk tenaga pembelok dan untuk penambahan kecepatan sewaktu berada di angkasa tanpa bobot.
Bagaimanapun nantinya wujud konstruksi pesawat itu, kita serahkan saja kepada para profesor dan kita yakin nantinya di masa depan akan terwujud sebagai pesawat kebal peluru dan tak memerlukan landasan tertentu karena dia dapat berdiri statis di angkasa dan yang lebih hebat lagi adalah bahwa pesawat itu tentunya water-proof alias anti-air yang kalau pada saat diperlukan dia dapat langsung masuk ke dalam lautan dan keluar lagi sesuai kehendaknya.
Kita boleh mengatakan bahwa kendaraan manusia kini sudah kolot, kuno atau usang karena sistem yang dipakainya sudah berlaku selama ribuan tahun, yang semuanya itu memakai prinsip menolak ke belakang untuk maju ke depan dan menolak ke bawah untuk naik ke atas. Setelah manusia sanggup memakai gaya centrifugal berbentuk “piring terbang” barulah manusia akan memulai kendaraan modern.
Jadi, masa terwujudnya “piring terbang” adalah batas antara ke-kuno-an dan kemodernan peradaban manusia. Batas ini disebut oleh Al-Quran dalam surat Az-Zukhruf ayat 13 diatas dengan bahasa kiasan, bahwa profesor yang mulai menggunakan “piring terbang” mengatakan; Waktu itu manusia baru memulai hidup dalam generasi lain yaitu generasi pesawat itu tidaklah segenerasi dengan modern.
Dalam peradaban modern dimana manusia umumnya memakai piring terbang sebagai kendaraan, akan banyak sekali perubahan dalam kehidupan baik di bidang jasmaniah maupun di bidang rohaniah. Di bidang jasmaniah akan berlaku perubahan dalam kehidupan seperti, orang-orang tak lagi membutuhkan jalan raya dan rel kereta api yang pembangunannya sangat banyak menghabiskan tenaga, tempat, benda dan waktu. Orang-orang akan memanfaatkan daerah itu untuk tempat tinggal atau untuk kebutuhan lainnya. Orang-orang akan memindahkan perhatiannya terhadap lautan sebagai sumber makanan karena lautan itu memang sangat luas yang mengandung berbagai bahan untuk keperluan hidup, dan daratan sebagian besar akan dijadikan orang untuk tempat bermukim. Orang-orang nantinya akan melakukan penerbangan antar planet secara lazim dimana planet Jupiter, Venus, Saturnus dan planet yang lebih besar lainnya akan menjadi sasaran dalam perekonomian dan politik.
Di bidang rohaniah akan berlaku perubahan dalam kehidupan seperti, orang-orang akan menyadari bahwa alam semesta ini memang diciptakan untuk kebutuhan hidup manusia oleh Allah Yang Maha Esa. Orang-orang akan menyadari bahwa manusia di planet Bumi dalam tata surya ini berasal dari satu diri, satu spesies, atau serumpun. Bukan dari hasil evolusi monyet, seperti teori Darwin yang dikalahkan logika. Orang-orang akan menyadari bahwa agama yang diturunkan oleh Allah SWT itu hanyalah agama Tauhid yang sama sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Imran ayat 83. Orang-orang akan menyadari bahwa agama Tauhid yang diturunkan Sang Khaliq itu mengandung hukum yang sesuai dengan kejadian dan naluri yang terdapat di alam semesta raya dan pada diri manusia sendiri, dan bahwa menolak agama itu berarti merugikan diri sendiri.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
(Surat Al-Fushshilat ayat 53)

Maka apakah mereka mencari agama yang lain selain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di planet-planet dan di bumi ini, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka akan kembali.
(Surat Al-Imran ayat 83)

Sabtu, 05 Februari 2011

var popunder = true;
THAHARAH (BERSUCI)
A. PENGERTIAN THAHARAH
Thaharah menurut bahasa berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah thaharah adalah mensucikan diri, pakaian, dan tempat sholat dari hadas dan najis menurut syareat islam. Bersuci dari hadas dan najis adalah syarat syahnya seorang muslim dalam mengrjakan ibadah tertentu.

B. MACAM-MACAM THAHARAH
Thaharah dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

1. Thaharah (bersuci) dari najis
Yaitu membersihkan badan, pakaian, tempat atau benda lain dari najis, menggunakan air.

2. Thaharah (bersuci) dari hadas
Yaitu membersihkan diri dalam rangka pelaksanaan ibadah, dengan cara mandi, wudlu,atau tayamum.

MACAM-MACAM NAJIS DAN CARA MENSUCIKANNYA
Najis dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut:

I. NAJIS MUKHAFFAFAH
Najis mukhaffafah adalah najis ringan yang disebabkan oleh kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan apapun selain air susu ibu.

Cara membersihkannya adalah dengan memercikkan air pada benda yang terkena najis tersebut, meskipun airnya tidak sampai mengalir.

II. NAJIS MUTAWASSITAH
Najis mutawassitah termasuk najis pertengahan yaitu najis yang tidak termasuk najis mukhaffafah maupun najis mughalladhah.
Najis mutawassitah dibagi menjadi 2, yaitu:

1. NAJIS HUKMIYYAH
Yaitu najis yang diyakini adanya tetapi tidak nyata, baik zat, bau, rasa maupun warnanya. Misalnya air kencing yang sudah lama mongering.

2. NAJIS AINIYYAH
Yaitu najis yang masih bisa diindra, baik wujud, bau, rasa maupun warnanya. Misalnya tetesan darah yang mengenai baju.

Cara mensucikannya adalah dengan menghilangkan (membuang) wujud(bau, rasa, dan warna) najis terlebih dahulu, lalu mengalirkan air diatas benda yang terkena najis.

III. NAJIS MUGHALLADHAH
Najis mughalladhah termasuk najis berat. Misal terkena cairan(liur, kencing, jilatan,dsb) anjing dan babi.

Cara mensucikannya adalah dengan menghilangkan materi najis terlebih dahulu, kemudian mencuci bersih benda/anggota badan yang terkena najis sebanyak 7 kali siraman. Salah satu siraman harus dicampur dengan debu yang suci.

BENDA-BENDA YANG TERMASUK NAJIS
Benda-benda yang temasuk najis banyak sekali, diantaranya:
a. Darah selain hati dan limpa
b. Nanah
c. Air liur anjing dan babi
d. Bangkai binatang darat yang berdarah selain mayat manusia
e. Minuman yang memabukkan
f. Bagian badan binatang yang diambil dari tubuhnya ketika masih hidup
g. Semua benda cair yang keluar 2 pintu tempat buang air kecil dan air besar, selain mani


MACAM-MACAM HADAS DAN CARA MENSUCIKANNYA
Suci dari hadas termasuk salah satu syarat syah sholat. Orang yang mengandung hadas sholatnya dianggap tidak syah. Oleh karena itu jika kita akan melaksakan sholat maka kita wajib bersuci dari hadas terlebih dahulu.

Hadas dibagi 2 macam yaitu hadas kecil dan hadas besar.

1. HADAS KECIL
Hal-hal yang menyebabkan seseorang berhadas kecil adalah sebagai berikut:
a. Buang air kecil(kencing)
b. Buang air besar(berak)
c. Keluar angin(kentut)
d. Tertidur
e. Hilang ingatan
f. Menyentuh alat kelamin dengan telapak tangan dengan sengaja.
Adapun cara mensucikan hadas kecil tersebut dengan wudlu atau tayamum.

2. HADAS BESAR
Hal-hal yang menyebabkan seseorang berhadas besar adalah sebagai berikut:
a. Keluar sperma (karena mimpi atau sebab lain)
b. Bersetubuh (hubungan badan antar suami istri)
c. Haid (datang bulan)
d. Nifas (darah yang keluar setelah melahirkan)
e. Wiladah (darah yang keluar saat melahirkan)

Cara mensucikan hadas besar terebut adalah dengan mandi junub (jinabat) atau mandi besar atau mandi wajib. Jika tidak ada air atau tidak boleh terkena air (oleh dokter karena sakit), maka dapat diganti dengan tayamum.

Adapun cara mengerjakan mandi wajid, adalah sebagai berikut:
1. Niat dengan sengaja untuk menghilangkan hadas besar
2. Mencuci alat kelamin (menggunakan sabun)
3. Berwudlu (seperti wudlu akan mengerjakan sholat).
Menyiramkan air ke seluruh tubuh dari ujung kepala sampai telapak kaki.

WUDLU
A. PENGERTIAN WUDLU
Menurut bahasa, wudu artinya bersih dan indah. Sedangkan menurut istilah, wudu artinya membasuh atau membersihkan anggota badan tertentu dengan air serta dilakukan dengan cara tertentu untuk menghilangkan hadas kecil.

Orang yang hendak mendirikan sholat diwajibkan berwudu terlebih dahulu, sebab berwudu merupakan syarat syah sholat.

B. SYARAT-SYARAT WUDLU
a. Islam
b. Mumayiz (sudah bisa membedakan antara yang benar dan yang salah)
c. Tidak berhadas besar
d. Menggunakan air suci dan mensucikan
e. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air untuk sampai ke kulit, maka jika masih ada harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum mendirikan sholat

C. RUKUN WUDLU
Rukun adalah sesuatu yang harus dikerjakan dan tidak sah wudunya jika ada yang ditinggalkan. Rukun wudu ada 6, yaitu:
1. Niat, yaitu menyengaja untuk melakukan wudu karena Allah.
2. Membasuh seluruh muka
3. Membasuh kedua tangan sampai dengan siku
4. Mengusap sebagian kepala
5. Membasuh kedua kaki sampai dengan mata kaki
6. Tertib (dilakukan secara berurutan)

D. SUNAT WUDLU
Sunat wudu adalah pekerjaan yang apabila tidak dilakukan wudunya tetap sah, tetapi jika dikerjakan akan lebih baik dan mendapat pahala.
Yang termasuk sunat wudu adalah sebagai beriku:
1. Membaca basmalah
2. Mencuci kedua tangan sampai dengan pergelangan
3. Berkumur
4. Memasukkan air ke lubang hidung, kemudian mengeluarkannya lagi
5. Mengusap seluruh kepala
6. Mengusap kedua telinga luar dan dalam
7. Menyilang-nyilangi jari kedua tangan dan kaki
8. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan dari yang kiri
9. Membasuh setiap anggota wudu sebanyak 3 kali
10. Tidak berbicara pada waktu wudu
11. Berdo’a sebelum wudu
12. Berdo’a sesudah wudu

E. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDLU
a. Keluar sesuatu dari kubul maupun dubur
b. Hilang akal
c. Menyentuh alat kelamin dengan telapak tangan
d. Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, keduanya telah baligh, dan tidak ada penghalang

F. MACAM-MACAM AIR YANG DIGUNAKAN UNTUK WUDLU
1. AIR SUCI DAN MENSUCIKAN
Adalah air yang dapat digunakan untuk bersuci, baik menghilangkan hadas maupun najis, dan airnya tidak berubah warna maupun zatnya. Misal air hujan, air sungai, air sumur, air laut, air salju, air embun dan air sumber lain yang keluar dari mata air.

2. AIR SUCI TETAPI TIDAK MENSUCIKAN
Air ini halal diminum, tetapi tidak dapat mensucikan hadas dan najis.
Yang termasuk air suci tetapi tidak mensucikan adalah:
a. Air yang berubah salah satu sifatnya, seperti: air teh, air kopi, air susu, dsb
b. Air yang kurang dari 2 kollah(jika persegi panjang maka ukurannya adalah1 ¼ hasta/±216 liter)
c. Air buah-buahan, seperti: air kelapa, perasan anggur dsb

3. AIR SUCI TETAPI MAKHRUH HUKUMNYA
Yaitu air yang terjemur sinar matahari dalam wadah selain emas dan perak

4. AIR MUTANAJIS
Adalah air yang terkena najis. Apabila airnya kurang dari 2 kollah, terkena najis, maka hukumnya menjadi najis. Akan tetapi jika airnya lebih dari 2 kollah, maka hukumnya tidak najis dan bisa digunakan untuk bersuci selama tidak berubah warna, bau, maupun rasanya.

TAYAMUM
A. PENGERTIAN TAYAMUM
Menurut bahasa tayamum berarti “Al-Qasdu”, yang artinya menyengaja. Sedangkan menurut istilah, adalah mengusapkan debu atau tanah ke muka dan ke dua tangan dengan syarat dan rukun tertentu. Tayamum merupakan pengganti wudu bagi orang yang berhalangan.

B. SEBAB-SEBAB TAYAMUM
A) Karena sakit, jika terkena air sakitnya akan bertambah parah
B) Karena dalam perjalanan
C) Karena tidak ada air
D) Ada air, namun hanya untuk minum saja
E) Ada air, namun tempatnya sangat jauh dan terhalangan bahaya yang mengancam jiwa

C. SYARAT TAYAMUM
 Ada uzur
 Masuk waktu sholat(bila bertayamum untuk sholat)
 Debu atau tanah yang digunakan harus suci
 Tidak ada najis yang melekat
 Tidak dalam keadaan haid atau nifas(bagi wanita)

D. RUKUN TAYAMUM
1) Niat, yaitu sengaja menggunakan debu untuk tayamum
2) Mengusap muka dengan debu yang suci
3) Mengusap kedua tangan dengan debu sampai siku-siku
4) Tertib, yaitu dilakukan secara berurutan

E. SUNAT TAYAMUM
1) Membaca basmalah
2) Meniup debu di telapak tangan agar menjadi tipis
3) Menghadap kiblat pada saat melakukan tayamum
4) Mendahulukan yang kanan dari yang kiri
5) Membaca do’a setelah tayamum, sebagaimana do’a yang dibaca setelah wudu

F. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TAYAMUM
a. Melihat air sebelum sholat (kecuali sakit)
b. Segala yang membatalkan wudu
c. Dapat menggunakan air, jika tayamum dilakukan dengan sebab terhalang menggunakan air

G. CATATAN
 Tayamum hanya dapat digunakan untuk sekali dalam sholat fardlu, meskipun belum batal. Adapun untuk sholat sunat, sekali tayamum dapat digunakan untuk beberapa sholat sepanjang belum batal.
 Mengusap dalam bertayamum tidak sama dengan mengusap air.

MANDI BESAR
A. PENGERTIAN MANDI BESAR
Mandi besar adalah meratakan air ke seluruh tubuh menurut aturan-aturan yang telah ditetapkan dengan maksud untuk menghilangkan hadas besar.

B. HAL-HAL YANG MENYEBABKAN MANDI BESAR
1. Keluar air mani
2. Bersetubuh
3. Orang kafir yang baru masuk islam
4. Selesai haid dan nifas
5. Orang islam yang meninggal dunia. Dalam hal ini merupakan kewajiban bagi orang islam yang masih hidup untuk memandikannya, kecuali mati syahid

C. RUKUN MANDI BESAR
a. Niat, yaitu niat menghilangkan hadas besar
b. Mengalirkan air ke seluruh tubuh

D. SUNAT MANDI BESAR
a. Membaca basmalah
b. Berwudu sebelum mandi
c. Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan
d. Mendahulukan anggota badan yang kanan
e. Tertib

E. MACAM-MACAM MANDI SUNAT
Mandi sunat adalah mandi besar yang hukumnya sunat, yaitu sebagai berikut:
a. Mandi hari jum’at, mulai terbit fajar hingga masuk waktu sholat subuh
b. Mandi hari raya idul fitri dan idul adha
c. Mandi sehabis memandikan mayat
d. Mandi ketika hendak ihram atau umroh
e. Mandinya orang kafir setelah masuk islam
f. Mandinya orang gila setelah sembuh dari gilanya


ISTINJA’
A. PENGERTIAN ISTINJA’
Menurut bahasa, istinja’ berarti terlepas atau bebas. Sedangkan menurut istilah, ialah membersihkan kedua pintu alat kelamin manusia yaitu dubur dan qubul(anus dan penis) dari kotoran dan cairan (selain mani) yang keluar dari keduanya. Istinja’ hukumnya wajib.

B. HAL-HAL YANG DILARANG KETIKA BUANG AIR
a. Dilarang menjawab suara adzan
b. Dilarang menjawab salam
c. Bila bersin hendaknya memuji Allah dalam hati saja, tidak boleh menjawab dengan suara keras
d. Dilarang mengucapkan kalimat-kalimat dzikir
e. Dilarang sambil makan, minum dan sebagainya

C. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK ISTINJA’
a. Air
b. Batu (jika tidak ada air)
c. Kertas atau tissue (jika tidak ada air)
d. Daun-daunan yang tidak biasa dimakan (jika tidak ada air)

D. TATA CARA ISTINJA’
1. Membasuh tempat keluarnya najis dengan air hingga bersih
2. Jika tidak ada air dapat dibersihkan dengan batu atau kertas sampai bersih. Sekurang-kurangnya dengan 3 buah batu atau 3 sisi sebuah batu. Jika tidak ada batu dapat digunakan benda-benda lain asal keset atau keras.

FUNGSI THAHARAH DALAM KEHIDUPAN
Fungsi thaharah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
a. Membiasakan hidup bersih dan sehat
b. Membiasakan hidup yang selektif
c. Sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT melalui sholat
d. Sebagai sarana untuk menuju surga
e. Menjadikan kita dicintai oleh Allah SWT